Wawancara Yosie Kristanto (Pemeran Utama Film ‘Tendangan Dari Langit’)


Share Button

T        : bisa cerita gimana rasanya syuting hari pertama dengan pemain bola professional ?

J          : syuting hari ini seru sekali, aku dapat banyak banget pengalaman, banyak pelajaran, ada sukanya ada dukanya. Sukanya ya bisa bermain bola bareng Persema. Kalau dukanya ya aku kan orang yang sering main futsal jadi main di lapangan gede jadi kagok agak kaku, makanya dari tadi dimarahin. Tapi marahnya CoachTimo itu pasti ada maksudnya, tuk yang terbaik buat aku dan buat semua orang.

T        : kenapa dimarahin, apa memang kamu masih belum terbiasa, atau bingung dengan apa yang disampaikan Coach Timo?

J          : bahasanya jelas kok. Cuma memang aku yang mengaplikasikan instruksi Coach Timo kurang baik, karena skill aku masih belum sebagus itu di lapangan.

T        : Gimana rasanya syuting bareng Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, karena mereka kan idola remaja saat ini?

J          : seneng banget, karena ga semua dapat kesempatan ini. Aku juga sampai harus ikut rangkaian audisi.

T        : ada tekanan tersendiri gak bagi kamu ketika langsung harus bermain bersama Irfan Bachdim, Kim, yang memiliki skill bola lebih baik?

J          : ya, memang ada tekanan tersendiri, kadang ‘nerveous’ main sama orang-orang hebat di Malang. Tetapi mereka juga kasih support ke aku “rileks aja Yos mainnya, jangan buru-buru” jadi semua membantu aku sekali.

T        : apakah mereka jadi memotivasi kamu?

J          : tentunya! Yang support aku pemain hebat semua, pemain Persema, dan aku jadi benar-benar termotivasi dengan prestasi dan sikap kekeluargaan mereka itu.

T        : syuting di lapangan bola ini kan dari pagi tadi ya, terus-terusan bermain bola, take berulang-ulang, kamu ga capek?

J          : kalo itu pasti capek. Tetapi aku harus melaksanakan tugas yang sudah diberikan, jadi  aku tetap harus berikan yang terbaik. Karena semuanya di tim ini juga begitu. Hehe..

T        : sebelum syuting, ada wejangan khusus dari orangtua kamu mengenai kiprah kamu di film ini ?

J          : kalau dari orang tua sampein ke aku “lakukan yang terbaik! Kerjakan tugas yang diberikan dengan baik. Jangan lupa do’a” karena Tuhan yang sudah kasih kesempatan mendapatkan peran Wahyu, main dengan Persema, dan kasih influence ke orang-orang dari tokoh yang aku perankan ini.

T        : mengenai skill bermain bola, ada latihan khusus untuk perdalam tekniknya?

J          : gak ada!.. latihannya waktu sebelum take. Jadi yang memang benar-benar ada dalam adegan, gak semuanya, seperti contohnya tadi gerakan Step In. aku juga kan sudah punya basic tehnik main bola saat di ekskul futsal, jadi tinggal menyesuaikan aja dengan lapangan bola yang besar ini.

T        : kamu kan terpilih dari hasil Audisi, dimana setelah pengumuman, hanya ada waktu 3 hari sampai akhirnya kamu syuting. Ada latihan khusus untuk pendalam karakter dari sutradara?

J          : Selama 3 hari itu aku ada reading, tetapi memang lebih banyak latihan fisik dari masHanung supaya aku emosinya keluar. Karena saat pertama reading dengan mas Agus yang jadi paman aku, aku ga keluar emosinya kata mas Hanung, padahal saat itu sebenarnya aku nervous karena mas Agus kan actor yang hebat. Jadinya aku di suruh teriak, suruh sit up sambil mengeluarkan dialog supaya emosinya keluar. Akhirnya ya aku jadi terbiasa dan tahu bagaimana cara mengeluarkan emosinya.

T        : dengan pemain lainnya, seperti Maudy, Joshua, Jordy, kamu ada kesulitan gak main dengan mereka atau membangun chemistry?

J          : gak sulit siy, karena rentang waktu umurnya ga beda jauh dari aku, kita hampir seumuran, jadi bisa main bareng, bercanda bareng. Aku kan ceritanya sahabatan dengan Joshua & Jordy, nah aku berusaha bangun keakraban dengan mereka, dan mereka juga memberikan respon yang positif, jadi kami ya benar-benar akrab dan saling menakrabkan diri walaupun sedang tidak take.

T        : dari sisi acting sendiri kamu ada kesulitan gak?.. karena kamu kan juga masih baru dalam dunia acting?

J          : kalau di Teater aku sudah ada pengalaman, karena aku ikut ekskulnya di Sekolah. Kalau film belum punya pengalaman. Tetapi di teater dan di layar lebar kan beda, gak bisa berlebihan seperti di teater, harus terlihat natural ga boleh lebay. Itu yang harus aku pelajari. Terus juga masalah blocking kamera dan lainnya aku juga harus belajar, karena kalau dulu teater kan kita semua melihat ke arah penonton. Dan juga saat dikarantina kemarin kita diajarkan basic acting oleh om Mathias Muchus.

T        : kamu kan sekarang masih sekolah, ada kesulitan gak dalam membagi waktu antara syuting dan sekolah, apalagi saat syuting ini kamu harusnya kan ujian ya?

J          : aku ijin tuk ikut ujian susulan. Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah aku mendukung aku di film ini, jadi aku diberi kelonggaran untuk ikut ujian susulan setelah syuting. Kepala sekolah aku itu guru teater aku, jadi dia mensupport aku. Dan wakil kepala sekolah aku itu guru futsal aku. Jadi situasinya benar-benar pas buat aku, aku sangat bersyukur sekali atas kelonggaran-kelonggaran itu. Jadi sekarang teman-teman aku sudah naik kelas, aku masing belum ujian, baru nanti setelah syuting.

T        : Kamu gak takut sekolah kamu nantinya terganggu?

J          : hahaha.. takut siy iya. Tetapi aku jadi belajar bagaimana memanajemen waktu. Kebetulan selesai syutingnya ga terlalu malam, sekitar jam 8 malam, jadi aku sempet-sempetin untuk nyicil ngerjain tugas, walaupun itu sedikit banget. hehehe..

Share Button

Miss September

Passion and Dreams Staying Alive

More Posts - Twitter - Pinterest - Google Plus


Comments


Leave a Comment