Metro Mini Gio – Refina


Share Button

Suara ayam berkokok menandakan pagi telah datang. Adzan subuh berkumandang dan Gio pun harus bergegas menunaikan ibadah wajibnya serta bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Nama lengkapnya adalah Zaky Giovano, Tapi teman-teman dan kedua orang tuanya memanggil ia dengan sebutan Gio. Gio adalah seorang mahasiswa tingkat satu di salah satu universitas negeri di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Setiap hari Gio berangkat kuliah ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Gio ke kampus menggunakan transportasi umum, ya Metro Mini 86 dengan trayek Pasar Minggu – Rawamangun. Metro Mini ini telah menemani Gio selama 6 bulan terakhir. Walaupun Gio telah dibelikan kendaraan pribadi oleh kedua orang tuanya, Tapi Gio lebih suka menggunakan Metro Mini yang lebih cocok disimpan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah.

“Bu, aku berangkat kuliah dulu”, pamit Gio kepada Ibunya.

“Naik Metro Mini lagi? Mobilmu sepertinya cemburu dengan Metro Mini itu, terlalu sering kau tinggalkan di garasi”, sahut Ibunya.

Dengan nada suara pelan, Gio pun menjawab, “Bu, sebelumnya terima kasih telah membelikanku mobil, tetapi belum saatnya aku memakai mobil itu. Jalanan Jakarta tidak cocok untukku membawa mobil pemberian Ibu dan Ayah. Aku lebih suka naik Metro Mini, Bu. Maafin Gio”.

Gio lebih suka menggunakan Metro Mini karena di sana ia dapat bertemu dengan berbagai macam orang, bisa memaknai arti kehidupan, dan mungkin bertemu cinta sejatinya disini, di dalam Metro Mini.

***

Pukul 05.45 Gio berangkat menuju halte tempat biasa ia menunggu Metro Mini kesayangannya. Walaupun tarif Metro Mini telah naik menjadi 3000 rupiah, Gio tetap menjadikan Metro Mini sebagai alat transportasi umum favoritnya. Pagi itu di halte hanya ada Gio dan seorang Ibu yang membawa 4 kardus mie instant yang sepertinya berisi barang-barang belanjaan sehabis dari pasar. Ketika Metro Mini itu tiba, Ibu tersebut tergopoh-gopoh membawa barang belanjaan miliknya, sang Kernet Metro Mini membantu Ibu tersebut untuk menaikkan kardus tersebut ke dalam Metro Mini. Gio turut membantu membawa barang-barang Ibu tersebut.

“Terima kasih, Nak…” bicara sang Ibu. Gio hanya mengangguk dan tersenyum. Metro Mini yang Gio naiki kala itu masih cukup sepi, hanya ada 20 orang yang hampir rata-rata berpakaian kantor dan ada juga beberapa anak sekolah. Gio mendapatkan tempat duduk bangku kedua dibelakang supir sebelah kiri. Penumpang yang duduk disebelah Gio adalah seorang bapak-bapak yang tertidur pulas, kepalanya mengayun-ayun mengikuti gerakan Metro Mini, sesekali kepala bapak itu terbentur bangku didepannya. Bapak itu terlihat lelah. Gio mengeluarkan Novel 5cm dari tas ranselnya. Novel itu baru beberapa halaman dibaca olehnya. Sang Kernet asik berteriak di pintu Metro Mini “Mangun, Mangun…” maksudnya adalah Rawamangun.

Metro Mini itu berhenti untuk mengambil penumpang di daerah Tebet. Seorang Cewek berpakaian seragam SMA, rambutnya terurai panjang, matanya sipit, memakai kacamata, rapih, bersih dan wangi. Cewek itu lebih cocok naik mobil daripada naik Metro Mini. Cewek itu berdiri tepat disamping bangku yang Gio duduki. Gio menoleh kearah Cewek itu, sebagai seorang laki-laki Gio mempersilahkan Cewek itu duduk, dan Gio bergegas berdiri. Cewek itu mengucapkan terima kasih kepada Gio, dan lagi-lagi Gio hanya tersenyum dan mengangguk. Gio memang memiliki jiwa sosial yang tinggi, dan suka menolong banyak orang. Cewek itu turun terlebih dahulu, menoleh kearah Gio dan tersenyum. Senyum yang begitu indah dengan lesung pipit sebelah kiri. Sesampainya di kampus, senyum Cewek itu masih menempel di kepala Gio terus-menerus. Gio berusaha menampiknya, Tapi senyum itu sulit dilupakan, tidak seperti mata kuliah kalkulus yang sangat mudah hilang dikepalanya.

***

Siapa Cewek itu? Senyumnya begitu manis, dan terus nempel dikepalaku. Baru sekali itu aku melihatnya, terlihat sempurna sebagai seorang Cewek. Mungkinkah besok aku akan bertemu kembali dengannya?

Gio melamun dan berangan-angan terhadap sosok Cewek yang baru saja ia temui pagi tadi di Metro Mini. Gio sudah lama menyandang status jomblo, dia adalah orang yang sulit jatuh cinta. Beberapa Cewek sering mengungkapkan isi hatinya kepada Gio, Tapi Gio hanya menganggap mereka semua teman. Cewek-Cewek itu mengartikan kebaikan Gio secara berlebihan. Gio memang baik terhadap semua orang, tanpa terkecuali. Terakhir kali Gio mempunyai pacar ketika ia duduk dibangku SMA kelas 2. Putusnya pun karena Desy pacar Gio waktu itu, menganggap Gio adalah orang yang sangat idealis. Gio jarang mau mengahabiskan uangnya untuk sekedar nonton di bioskop atau makan berdua. Gio memang sederhana. Desy menganggap Gio laki-laki pelit. Gio pun menerima keputusan Desy, walau sedikit kecewa ternyata Cewek yang ia sayangi tidak bisa menerima Gio apa adanya.

Ketika udara pagi masih segar terhirup, asap polusi belum seberapa terhampar diudara, dan cuaca pagi itu cukup dingin karena tadi malam hujan turun cukup lebat. Gio menatap langit, dan ia memohon kepada Tuhan agar dipertemukan kembali oleh sosok itu, sosok Cewek yang senyumnya ga dapat dideskripsikan oleh kata-kata, sempurna. Ia berangkat pada jam yang sama, seperti kemarin agar tidak ketinggalan Metro Mini dan senyuman manis Cewek itu. Metro Mini sangat padat hari itu, Gio ga mendapat tempat duduk. Ada seorang Ibu hamil yang ga mendapat tempat duduk pula, semua orang hanya melihatnya dan ga ada seorang pun yang mempersilahkan bangkunya untuk Ibu hamil itu duduki. Ada seorang laki-laki muda, umurnya sekitar 20 tahun, memakai topi, dan ia seperti berpura-pura tidur karena wajahnya ditutupi oleh topi ketika Ibu hamil tersebut naik Metro Mini. Gio dengan sigap menegur lelaki itu, dan menyuruh lelaki itu untuk memberikan tempat duduknya kepada Ibu hamil itu.

“Mas, ada Ibu yang lagi hamil. Bisa tolong berikan ia tempat duduk?” Tanya Gio sambil menyolek pundak lelaki muda itu. Dengan wajah bete lelaki muda itu memberikan tempat duduk kepada Ibu hamil tadi. Yah memang, pemandangan seperti ini seringkali Gio temui di dalam Metro Mini, banyak orang yang tidak peduli terhadap sesama, dan lebih mementingkan diri sendiri. Tapi, masih banyak juga orang baik seperti Gio. Berdiri di Metro Mini merupakan makanan sehari-hari Gio, ia telah terbiasa berdiri dari Pasar Minggu hingga Rawamangun. Gio menjalaninya dengan enjoy. Pandangan Gio fokus keluar jendela Metro Mini, berharap Gio bisa melihat sosok Cewek yang kemarin ia temui. Semakin mendekat, semakin terlihat sosok itu berlalu begitu saja. Metro Mini ini telah penuh sesak, ga sanggup lagi membawa penumpang lain termasuk Cewek yang telah membuat malam tadi menjadi haru biru. Pagi itu Gio kecewa.

Gio pulang kuliah agak siang, karena sang Dosen berhalangan hadir. Begitulah Gio, ga terlalu suka menghabiskan waktu berlama-lama di dalam kampus. Gio lebih suka bergaul di luar kampus, sehingga jika salah satu Dosen berhalangan hadir, Gio lebih memilih pulang dan membaca setumpuk buku-buku koleksinya di rumah.

Metro Mini di siang hari sangat sepi. Banyak bangku-bangku kosong. Gio duduk dekat jendela sehingga Gio dapat merasakan semilir-semilir angin yang membuatnya sedikit mengantuk. Mata Gio mulai terpejam, Tapi ga sampai pulas. Ketika tersadar, Cewek dengan senyuman manis itu tepat duduk disamping Gio. Gio mencubit lengannya, dan ternyata sakit. Berarti Gio tidak sedang bermimpi. Cewek itu benar-benar duduk disebalah Gio. Jantung berdega begitu cepat, kaki serasa gemetar. Kania Darmawan, nama yang tertulis di seragam sekolahnya. Akhirnya Gio mengetahui nama Cewek itu. Sedangkan Kania asyik membaca Novel The Power of Six dan ga memperhatikan Gio yang tengah kegirangan, mata Gio berbinar-binar.

“Pittacus Lore? Lorien Legacies?”

“Lo tau novel ini?” heran Kania.

“Iya, salah satu novel favorit gue. Gue Gio”, sambil mejulurkan tangan ke arah Kania.

“Gue Kania. Lo suka baca novel ya? Ehm, lo yang kemarin ngasih tempat duduk lo buat gue kan? Kemarin gue liat lo lagi baca novel 5cm”.

Ternyata Kania masih ingat dengan Gio dan memperhatikan Gio. Mereka saling memperhatikan satu sama lain sejak pertama kali bertemu di dalam Metro Mini. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, jodoh, entahlah. Konspirasi semesta yang mempertemukan Gio dengan Kania.

“Lo penumpang tetap Metro Mini ya, Gi?” tanya Kania. “Iya, dari kuliah semester 1 gue udah naik Metro Mini, lo sendiri?”

Mereka berbincang sepanjang perjalanan. Segalanya mereka perbincangkan, dari mulai novel, kehidupan kampus, kehidupan sekolah, hingga keluarga. Kania bercerita bahwa ia baru saja pindah rumah ke daerah Tebet, dengan rumah yang sederhana, dan harus pergi ke sekolah menggunakan Metro Mini. Rumah mewah, mobil, dan yang lainnya harus dijual sebab Ayah Kania bangkrut. Perusahaan Ayahnya terpaksa ditutup dan harus menanggung hutang yang ga sedikit. Awalnya ia susah beradaptasi dengan Metro Mini yang panas, pengap, dan sering kebut-kebutan seenaknya karena kejar setoran. Tapi, ini semua harus ia jalani karena hidup ga selamanya diatas. Kania sosok Cewek yang begitu tegar, senyumnya yang begitu manis menutupi kesedihannya. Selain dengan senyuman itu, Gio pun kagum dengan ketegaran Kania.

***

Metro Mini 86 merupakan saksi bisu perjalanan sepasang manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda, sifat yang berbeda, kehidupan yang berbeda, Tapi perasaan keduanya yang sama. Gio yang idealis, dan Kania sosok Cewek muda yang tegar menghadapi masalah, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Mereka berdua membiarkan perasaan itu melaju dengan sendirinya, seperti halnya Metro Mini melaju dengan apa adanya, menerima segala latar belakang penumpangnya, dan mengantar mereka kesuatu tujuan, yaitu kehidupan dan kebahagiaan.

END~

Share Button

Vidette Glasses

a bit of this a bit of that .. HAHAH

More Posts - Website - Twitter - Pinterest - Google Plus



Comments


Leave a Comment