Cerita Pendek: Izinkan Aku Melihatmu


Share Button

Izinkan aku melihatmu

 

Perpisahan bagiku hanya dapat dirasakan sekali. Ketika manusia tidak lagi dapat menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida di bumi.

“It’s crazy how much things have changed since last year, I just want my life to get better,” ujarku dalam hati sambil mengingat apa yang terjadi tepat setahun lalu. Aku bingung mengapa aku masih trauma dengan masalah itu, padahal kejadian itu telah lama. Aku menyesal mengapa dia singgah dalam hidupku, memberik kebahagiaan yang akhirnya perih jadi luka. Aku mengetahui itu karena akulah penyebab utama dia pergi.

Aku dan dia memiliki kenangan-kenangan yang begitu indah. Senyumnya, candanya, dan perhatiannya membuatku larut. Padahal, awalnya aku sangat tidak menyukainya. Murid baru yang gayanya sok jenius sangat kubenci. Belum lagi tingkahnya yang selalu mencari perhatian guru setiap jam pelajaran. Mengerjakan dan menjawab semua soal yang ditanyakan guru, padahal itu kan jatah aku. Aku murid yang paling pintar di sekolah. Aku benci bila dia menandingiku.

***

“Tyo… sebenernya apa sih maksud lo? Lo udah rebut posisi gue sebagai murid paling pintar di sekolah ini dan lo juga udah rebut perhatian guru-guru. Puas kan lo?!” teriakku marah sembari mencegat dan memaksa Tyo memberi penjelasan sepulang sekolah.

Tapi entah apa karena pesonanya, aku tidak sanggup melanjutkan unek-unekku dan malah menangis. Bukannya marah, Tyo malah menenangkanku dan mengajakku duduk di bangku depan perpustakaan sekolah.

“Ria, aku gak pernah bermaksud untuk merebut hak dan kebahagiaan kamu. Aku ga punya rencana untuk melakukan itu. Aku hanya mengikuti setiap prosedur yang telah ditetapkan dan apa itu salah jika aku melaksanakannya?” ujar Rio sambil menenangkanku.

“Tapi cara lo itu berlebihan,” kataku.

“Aku ga mau ribut sama kamu. Jujur, aku ga suka lihat kamu nangis. Aku akan mengurangi caraku jika menurutmu berlebihan,” kata Tyo lembut menghentikan pertengkaran kami.

Sejak kejadian itu, ternyata kami pun semakin dekat. Kemana ada Tyo, di situ pasti juga ada aku. Teman-teman di sekolah bahkan menggosipi kami pacaran. Aku enggak tau apa hubungan kami disebut sebagai pacaran. Tidak pernah ada kata-kata cinta di antara kami. Kami hanya saling berbagi, aku selalu curhat kepadanya. Sampai pagi itu datang…

***

Pagi itu kami janji mau berangkat bareng ke sekolah . Tapi tiga puluh lima menit aku menunggunya, dia masih belum kelihatan di ujung jalan. Dengan perasaan kecewa bercampur marah, aku mengayuh sepeda dengan kencang. “Aku paling benci jika dikecewain, pasti dia udah bareng cewe lain berangkat ke sekolah. Sampai lupa sama aku, awas aja kalau ketemu di sekolah!” ujarku dalam hati.

Ternyata, Tyo ga muncul sampai jam pelajaran dimulai. Setelah empat hari, bahkan Tyo tetap ga masuk tanpa kabar. Aku makin marah, kenapa Tyo ga kasi kabar ke aku? Aku putuskan pulang sekolah datang ke rumah dia. Anehnya, mengapa rumah dia sepi dan hanya ada pembantunya yang kelihatan.

“Bi, Tyo ada?” tanyaku.

“Eh… ada Neng. Tapi, Den Tyo ga mau diganggu,” jawab si bibi.

“Tolong sampein ama Tyo. Kalo dia gak jemput aku di sekolah besok, aku ga mau ketemu ama dia lagi!” kataku langsung pulang sambil marah-marah gak jelas di jalan.

***

Keesokan hari setelah  bel pulang berbunyi, aku langsung mengambil sepedaku di parkiran menuju pos satpam. Disinilah tempat kami biasa bertemu jika ingin pulang bersama. Aku menunggu Tyo, aku sangat yakin jika hari ini Tyo  bakal menemuiku. Tapi setelah satu jam menunggu, dia tak kunjung datang. Dengan marah dan kecewa, aku langsung mengayuh sepeda dan pulang.

Di tengah pejalanan pulang, aku melihat sekerumunan orang sedang mengerumuni sesuatu. Mungkin ada korban tabrak lari, batinku. Ah buat apa peduli, masalahku lebih penting! Aku terus mengayuh sepeda dengan cepat, berjanji tidak akan mengingat dan menanti dia lagi. Sesampai di rumah, aku pun langsung terlelap tidur dengan pakain sekolah dan sepatu yang masih menempel.

***

Pukul empat, aku terbangun dari tidur singkat. Aku melihat ponsel, ada delapan panggilan tidak terjawab dan satu pesan. Ternyata pesan dari Bu Tessya, wali kelasku. Kubuka dan kubaca pesannya yang tertulis, “Assalamualaikum Ria, ini Bu Tesya. Ibu cuma mau ngucapin turut berduka cita, yang sabar ya! Sesuatu yang datangnya dari Allah akan kembali juga padanya.”

Serrrr…. darah dan jantungku bereaksi bersamaan sehingga membuat aku sedikit sulit bernapas. Bingung dengan pernyataan Ibu Tesya, aku langsung menelponnya untuk menjawab rasa bingung dan penasaran. “Halo bu, saya ga mengerti dengan pesan yang ibu kirimkan. Apakah ibu bisa menjelaskan?”   tanyaku.

“Lho… emangnya kamu belum mendapat kabar ya?” tanya Bu Tesya.

“Maksud Ibu, kabar apa?” ujarku semakin bingung,

“Ria, Tyo telah tiada. Tyo meninggal dunia tadi siang pukul 02:00 WIB. Dia meninggal ketika sedang bersepeda. Sebenarnya Tyo terkena kanker darah, dokter telah memvonis hidupnya tidak akan bertahan lama. Segala macam cara telah dilakukan, termasuk mengistirahatkannya secara total dirumah. Tapi dia melanggar ini dan malah bersepeda sehingga naas telah menjemputnya,” cerita wali kelasku.

***

Aku hanya bisa terdiam bersama dengar airmata yang telah membasahi pipiku. Tak mampu berkata apa-apa. Ponselku langsung terjatuh dan aku tidak memperdulikan keadaan sekitar lagi, aku cuma ingin menangis. Aku merasa bersalah, Tyo meninggal karena aku.

Jika saja aku tidak ngotot untuk bertemu dengannya sepulang sekolah, pasti ini tidak akan terjadi. Pasti dia tidak melanggar apa yang telah di sarankan oleh dokter, pasti dia masih bisa beristirahat dirumah, pasti kami akan bertemu lagi, dan pasti dia tidak akan meninggal secepat ini.

Keegoisan yang tak pernah habis ini, pada akhirnya menyebabkan suatu penderitaan baruku yang panjang. Kesenangan yang hanya dapat dirasakan untuk beberapa saat ,mengakibatkan penderitaan akhir yang berkepanjangan.

Cerita Pendek oleh: Rini Wulandari

Kirim cerpen karya asli beserta data diri lo ke ouch@mycakrawala.com kalau pengen cerita pendek buatan lo dimuat di sini!

Share Button


Comments


Leave a Comment