Interview Hanung Brahmantyo Film ‘Tendangan Dari Langit’


Share Button

T        : bisa cerita film ini tentang apa?

J          : ini film tentang Inspirasi. Ini film yang menginspirasi anak muda untuk dapat meraih impiannya dengan kerja keras. Tidak ada dikotomi antara pusat dan daerah. Walaupun tentang anak daerah yang mencoba meraih impiannya.

film ini bercerita tentang tokoh utamanya, Wahyu. Dia sangat mencintai bola dan bercita-cita untuk jadi pemain bola. Dia ingin bermain bola dengan Irfan Bachdim. Tetapi dia tidak dijinkan bermain bola oleh ayahnya, karena ternyata bapaknya dulu adalah pemain bola yang patah semangatnya, karena kondisi Negara dulu yang tidak mensupport pemain bola. Dia tidak menginjinkan anaknya bermain bola karena takutnya nanti akan kecewa seperti dia dulu, bapaknya. Tetapi kemudian ia diam-diam bermain bola karena dibujuk pamannya. Dan dia pun kemudian mendapat kesempatan untuk try out di Persema tempat Irfan Bachdim bernanung. Dan wahyu pun mencoba manapaki mimpinya untuk menjadi seperti idolanya.

T        : bisa dibilang film ini untuk mengispirasi ya Mas?

J          : Iya. Bisa dibilang film ini ada untuk menginspirasi anak muda untuk meraih mimpinya. Mimpinya tidak hanya di dunia bola, apapun ya.  Dan spirit dari orang daerah yang dianggap ‘kampung’, dikotomi itu yang mau saya encounter di film ini, untuk menunjukkan bahwa kamu punya sesuatu untuk ditunjukan di negeri ini.

Kenapa bola?! Ya karena kita sangat berharap betul dengan bola di Indonesia.

T        : Ide awalnya kan dari Coach Timo (Pelatih tim Persema), kemudian siapa yang mengembangkan cerita itu ?

J          : saya dan fajar Nugroho. Fajar Nugroho kan orang yang lebih mengenal sepakbola, juga pecinta bola. Oleh karena itu dia saya beri kepercayaan untguk menulis cerita ini. Lalu saya yang mensupervisi, yang memberikan masukan untuk plotnya, dialognya, tentang filosofis-filosofisnya seperti apa. Lalu ada coachTimo, memberikan arahan dari sisi koreografi bola, logika-logika bola seperti apa.  Jadi untuk mendirect pemainnya saya, lalu yang mendirect untuk permainan bolanya Coach Timo.

T        : Kenapa Irfan Bachdim yang dipilih sebagai tokoh yang diispirasikan?

J          : Irfan bachdim buat saya sudah menjadi icon ya. Icon anak muda dan bola. Dimana ini penting ya untuk menarik minat masyarakat yang dulu tidak percaya pada sepakbola Indonesia. Dengan sosoknya Irfan Bachdim, mungkin yang lain juga ya, ada Gonzalez, Bambang Pamungkas. Kita jadi melihat kembali sepakbola Indonesia dalam sudut pandang yang berbeda. Kita tidak bisa memungkiri, sebelum AFF sepakbola Indonesia kan jarang merambah sampai ke anak-anak  muda Indonesia. Belum menjadi lifestyle bagi anak-anak muda Indonesia. Karena ketidakpercayaan itu tadi.

Nah pada saat AFF, dimana ada Gonzalez, Irfan Bachdim, Kim, dll, disitu menarik minat remaja-remaja Indonesia datang ke Gelora BungKarno dan melihat secera dekat. Dan fenomena itu penting bagi saya dan tentunya bangsa ini, karena bola sudah mendapatkan kepercayaannya kembali.

Nah film ini hadir untuk merespon kondisi itu, kondisi masyarakat yang mencintai bola. Dimana kita berharap bola di Indonesia itu bisa menjadi tempat kita berteriak bersama mencintai negeri ini.

T        : ada kesulitan dengan mengarahkan Irfan Bachdim di film ini?

J          : dia saya arahkan ya sebagai Irfan Bachdim, pemain bola, bukan di luar itu. Di sini dia berperan sebagai dirinya sendiri.

T        : dia harus bagaimana di film ini?

J          : ya dia main bola aja, seperti dia biasanya sehari-hari. Dalam bermain bola kan ada tuntutan koreografi bermain bola, ya dalam hal itu kita menuntut dia untuk ikut dalam koreografi itu. Dia serius, dia benar-benar harus bertanding seolah-olah benar real di lapangan.

T        : dalam film ini ada cukup banyak pemain yang bukan aktor, ada kendala ga?

J          : ya jangan disuruh jadi orang lain, jadi diri dia sendiri aja. Saya rasa semua orang bisa acting asal disuruh jadi diri dia sendiri. Saya rasa semua orang bisa acting ya, asal dikembalikan pada diri masing-masing, jangan disuruh jadi orang lain. Bahkan seorang actor pun kalau disuruh jadi orang lain akan susah.

Di sini, Irfan, Kim, saya tidak menyuruh  mereka menjadi orang lain, mereka di sini bermain bola seperti mereka bermain bola. Jadi seperti terlihat saya membuat fim dokumentar tentang Persema. Saya tidak akan menyuruh mereka acting berpura-pura yang bukan diri mereka sendiri.

T        : Kenapa memilih tim Persema?

J          : bukan Persema ya awalnya. Kebetulan Irfan Bachdim sudah menjadi Icon remaja. Dan Irfan Bachdim dimiliki Persema. Itu aja, sesimple itu.

Kenapa harus Irfan Bachdim?! Bukan yang lain. Pertama adalah Irfan Bachdim sudah menjadi icon remaja. Dan itu penting buat saya, karena ke depan tidak ada tempat untuk anak-anak muda kita meletakkan nasionalisme, kecuali di pertandingan sepakbola. Di pertandingan bola, kita bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan pas, dengan enak, dengan jujur, tanpa ada yang memaksa. Kita bisa memekik Indonesia! Indonesia! Itu pada saat pertandingan bola.

Ketika bola itu dijauhi masyrakat karena tidak berprestasi, itu menjadi momok buat saya, karena itu bola harus kita lindungi. Bola harus kita kembalikan kepada masyarakat dan dicintai masyarakat. Masyarakat itu kan banyak, tetapi media-media seperti televisi, radio, majalah, atau lifestyle selalu membidik kearah remaja. Anak muda itu menguasai pasar. Dia konsumen paling besar dalam industry fashion, film dan lain-lainnya. Kalau anak muda sudah tidak mencintai bola, maka ya sudah, bola akan ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia.

Sebelum AFF, masyarakat Indonesia melihat bola atau menonton sepakbola Indonesia itu seperti suatu hal yang kampungan. Tetapi setelah AFF, kita tidak bisa mengingkari kalau remaja mulai memperhatikan bola. Saya sendiri jengkel kenapa siy baru setelah ada yang ganteng dalam tim sepakbola baru mendapat perhatian dari baynyak kalangan. Tapi itu faktanya. Oleh karena itu buat saya Irfan Bachdim itu sebagai pancingan untuk mengajak anak-anak muda kembali mendukung, mencintai sepakbola Indonesia.

T        : Pemeran Wahyu, didapat dari hasil audisi, ada kesulitan gak dalam mengarahkannya?

J          : dalam menyeleksi Wahyu dalam audisi kemarin, harus dinilai dari 2 hal, dia harus bisa acting dan dia harus bisa bermain bola dan dia anak Malang. Ada yang dia bisa acting, tapi dia ga bisa main bola. ada yang bisa main bola, bisa acting, tapi dia bukan anak Malang. Ada yang bisa main bola, anak Malang, tetapi dia ga bisa acting. Jadi kita harus mengunggulkan yang mana ini. Itu menjadi perdebatan yang cukup sulit diantara kita, sampai kita akhirnya memilih Yosie.

Memang Yosi itu dari segi acting ya tidak sempurna. Main bola juga tidak sempurna. Kalau anak Malang ya dia memang medok banget malang-nya. Akhirya kemudian kita ngambil dia bukan karena dia yang terbaik, tetapi karena dia yang paling pas. Dia masih bisa bisa kita upgrade actingnya, dia juga masih bisa kita upgrade main bolanya. Tapi yang penting bdia membawa spirit Malang. Nah anak itu membawa spirit Malang. Kalau sudah ngomong dah langsung ketahuan banget.

T        : kenapa kota kecil seperti Malang yang dipilih untuk set cerita, bukan kota-kota besar?

J          : justru disitu menariknya ya. Bahwa kota Malang, sebuah kota kecil bisa menghasilkan suatu sosok yang bisa menjadi icon remaja, yaitu Irfan.

Kenapa tidak Jakarta?.. karena buat saya, sudah saatnya kota-kota di luar Jakarta menunjukan keunikan-keunikannya sendiri-sendiri. Seperti Jogya, Malang, Bandung, Palembang mungkin dan kota-kota lainnya.

T        : bisa cerita kenapa syutingnya juga harus di Bromo ?

J          : bromo itu kita pakai sebagai area rumahnya Wahyu. Wahyu itu adalah sosok yang mengidolakan Irfan Bachdim dan dia bercita-cita ingin menjadi pemain professional. Makanya dia hijrah dari Bromo ke Malang untuk bertemu dengan Irfan Bachdim dan menjadi pemain bola Persema.

T        : Berapa kamera yang digunakan untuk syuting, dan jenisnya ?

J          : kita pakai 5 kamera video. Ini karena biaya film mahal sekali. Bagi  saya adalah suatu kemewahan bila kita bisa syuting memakai kamera film, tetapi jadi terasa tidak realistis sekali, karena penonton Indonesia semakin lama semakin menurun, tidak naik. Sehingga takutnya nanti tidak mencukupi biaya pembuatan filmnya dengan pendapatnya. Itulah pertimbangan kita menggunakan kamera video, dimana kita bisa cut budget 10-20% untuk ongkos produksi.

T        : Kapan rencananya tayang ?

J          : Kita tayang di Lebaran. 25 agustus 2011. Karena kita ingin ditonton oleh masyarakat Indonesia saat liburan lebaran.

T        : berapa lama waktu syutingnya?

J          : kita mulai syuting dari 27 mei sampai 20 juni. 27 mei s/d 3 Juni di kota Malang. Selebihnya di daerah Bromo dan sekitarnya. Total syuting sekitar 22 hari.

T        : ada kesulitan gak Mas dalam menyutradarai film ini, karena berbeda ya dari film-film masHanung sebelumnya?

J          : tantangan iya. Karena penonton itu selalu memiliki ekspetasi yang tinggi terhadap film olahraga. Ini film tentang Bola, berarti bolanya harus keren kan!.. mendirecrt bola itukan tidak hanya mendirect 11×2 orang ya. Tetapi juga mendirect penontonnya, ribuan penonton, bagaimana ekspresi mereka saat gol tercipta, bagaimana pada saat pelanggaran, saat tendangan pojok, dapat kartu kuning atau kartu merah, itukan ekspresi mereka pasti beda-beda. Buat saya itu yang susah! Sementara, kita sangat terbatas sekali, terbatas budget, terbatas waktu, apalagi kita kerjasama dengan tim Persema yang sedang mengikuti liga.

Untuk membuat satu adegan pertandingan sepakbola itu idealnya 3 hari. 1x pertandingan, dimana ga mungkin ditayangin 90menit kan, tetapi mungkin hanya sekitar 10menit. Untuk menciptakan gambar 10menit itu kita harus syuting 3 hari. Bayangin aja saya harus menghadirkan 80.000 penonton kan, yang mana itu tidak mungkin. Saya harus melakukan itu dengan direpresentasikan dari sekitar 2500 penonton. Padahal kalo 2500 penonton Cuma berapa persennya tuwh, ga ada 10% nya. Susahnya di situ.

Sementara harapan penonton kalau membuat film sepakbola itu seperti film GOL kan. Kalau film GOL itukan budgetnya besar sekali. Apalagi disini, orang dibayar 50.00 untuk nonton Persema aja ga mau yah, sekitar 100.000 maunya. Berapa itu ilainya kalau dikalikan 80.000 penonton, sekitar 8milyar, hanya untuk penonton aja, itu wasting banget ya.

T : mengingat kisruh di PSSI sekarang, apakah sepakbola ini nantinya akan menjadi tidak menarik lagi untuk dijadikan tema dalam dunia hiburan?

J : saya pikir apapun yang terjadi nantinya di dunia sepak bola Indonesia, mau kena sanksi atau buruknya tidak aka nada lagi, film ini akan tetap eksis. Karena film itu sifatnya menangkap momen. Film ini akan ditonton sebagai sebuah nostalgia. Bisa menjadi monumen, misalnya bila tidak ada lagi akhirnya bahwa dulu pernah ada Irfan, Kim, yang pernah besar. Kira-kira begitu.

Apalagi kalau ternyata dikemudian hari Irfan bisa memberikan sumbangan-sumbangan berarti di dunia sepakbola, maka film  ini juga bisa menjadi do’a buat Irfan supaya jangan sampai kalah. Haha.

Sepakbola akan tetap menarik menjadi tema di dunia hiburan, karena sepakbola adalahsebuah drama yang tidak bisa diramalkan akhir dan endingnya. Makanya akan tetap menjadi sebuah drama yang menarik.

Share Button

Miss September

Passion and Dreams Staying Alive

More Posts - Twitter - Pinterest - Google Plus


Comments


Leave a Comment