Cerpen: Bolu Kukus Dafa


Share Button

 

“Chi, mana pesenan cupcake buat gue?”

“Buat gue juga mana?”

Kelas makin rame sama suara anak-anak XI IPA 2 yang teriak-teriak minta pesanan cupcake yang ada di kotak besar warna biru punya Achi.

Cewek berambut pendek ini kewalahan melayani pesanan teman-temannya.

“Sabar dong. Lo semua pasti kebagian kok. Kan gue udah nyatet semua pesanan,” kata Achi sambil terus memasukkan cupcake ke dalam plastik bening.

“Makin laku aja dagangan elo, Chi,” kata Raras sambil duduk di sebelah Achi.

“Gue bersyukur banget, Ras. Lumayan buat nambah uang sekolah gue.”

Achi emang ga terlahir dari keluarga berkecukupan yang bisa pakai uang dengan santai. Sejak kecil Achi udah biasa membantu ibunya jualan aneka kue di sekolahnya.

Walopun untungnya ga terlalu besar, tapi lumayan laaah, buat nambah keperluan sekolah.

“Tapi cupcake buatan nyokap elo emang enak banget sih, Chi. Ga bosen, toppingnya juga lucu-lucu.”

“Masa sih?”

“Iya. Gue rasa semua orang di kelas kita udah pernah beli cupcake elo, deh.”

Achi langsung diem denger pernyataan Raras.

“Gue rasa Dafa ga pernah beli dagangan gue,” kata Achi sambil murung.

“Iya juga, ya? Cuma dia doang yang ga pernah nyoba dagangan elo.”

“Gue juga heran, Ras,” tanggap Achi.

Achi seneng dagangannya selalu laku, dia sering merasa sedih karena ada satu teman sekelasnya yang ga pernah membeli cupcake dagangannya.

Dafa cuek banget sama opini orang yang memuji kelezatan cupcake Achi.

“Mungkin dia ga suka kue,” kata Raras.

“Masa sih? Kemaren gue liat dia makan bolu gulung yang dibawa Fanny.”

“Terus menurut elo kenapa dia begitu?”

“Apa mungkin dia sebel sama gue ya?”

Achi keliatan sedih. Dia inget pertama kali Dafa dateng dan memperkenalkan diri sebagai murid baru pindahan dari Pontianak.

Achi inget banget kalau cowok tinggi dengan kulit putih itu ga bales senyuman Achi. Lebih dari itu, Dafa juga ga pernah ngobrol sama Achi selain ngomongin tugas.

“Ih, kenapa mesti sebel sama elo? Elo, kan, ga pernah berbuat kesalahan, Chi.”

“Gua cuma merasa dia ga suka sama gue, Ras. Gue juga ga tau apa alasannya.”

“Ga mungkin, Chi. Dafa itu cowok yang baik. Emang sih dia sedikit kaku, tapi dia bukan tipe cowok yang sebel sama orang tanpa sebab.” Kata Raras

Achi lagi-lagi menghela nafas panjang. Selama ini dia mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan sama orang yang baru dikenalnya.

Sifatnya yang periang bikin dia gampang berbaur dengan lingkungannya. Baru kali ini dia merasa dijauhi orang tanpa sebab.

“Terus gue harus gimana dong?”

“Gue yakin kalo Dafa ga sebel sama elo. Jadi, ga usah dipikirin. Kita coba aja buat ngedeketin dia, biar semuanya jelas,” kata Raras sambil tersenyum lebar.

 

***

Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, murid-murid berhamburan untuk mengantri pesanan mereka di meja Achi.

Kali ini durasi antrian menjadi lebih pendek karena Raras ikut membantu sohibnya itu jualan.

“Vano ga masuk sekolah karena mendadak sakit. Cupcake pesanan dia buat elo aja, Ras. Thanks banget udah ngebantuin gue jualan,” kata Achi .

Raras tersenyum. Terlintas ide di otaknya ketika kue itu ada di tangannya. Dia berjalan menuju meja Dafa yang sedang konsen main game.

“Dafa, beli dong cupcake Achi. Tinggal satu, nih,” kata Raras.

“Beli?” tanya Dafa dengan keheranan.

“Iya. Tinggal satu. Sayang kalo kebuang.”

Dafa langsung bingung. Dilihatnya sepotong cupcake yang sudah ditaro Raras di mejanya. Terus dia ngeliat muka Raras yang masih menunggu respon Dafa.

“Beli dong, Dafa,” kata Raras lagi.

Tiba-tiba, Adi lewat tepat di depan Raras dan Dafa sambil membawa hasil ulangan yang sudah dikoreksi untuk dibagiin. Dafa langsung memanggil Adi dengan semangat.

 

“Adiiii, elo bilang pengin cupcake. Nih, Raras nawarin cupcake.”

Adi naro hasil ulangan yang dipegangnya terus berjalan ke arah Raras. “Masih sisa? Sini deh gue yang beli,” kata Adi sambil menarik dompet hitam dari dalam kantongnya.

Achi semakin yakin kalo Dafa memang sebel sama dia, karena jelas banget kalo Dafa ga mau makan cupcake yang dijualnya itu, walopun yang nawarinnya Raras.

****

“Dafa? Ngapain elo ke sini?”

Achi lagi sendiri di dalam kelasnya, padahal bel pulang sudah berbuny dari 30 menit yang lalu. Hujan yang turun dengan derasnya jadi alasan Achi untuk bertahan di dalam kelas sambil menunggu hujan reda.

Raras udah pulang duluan karena harus jemput adeknya yang masih SD.

“Dompet gue ketinggalan. Elo sendiri ngapain di sini?” tanya Dafa.

“Nunggu hujan reda. Mungkin bentar lagi gue balik.” Jawab Achi

“Ngapain sendiri di sini? Nanti tau-tau ada yang nemenin loh,” kata Dafa sambil ketawa.

“Dafa iiihhhh…. !” teriak Achi yang memang penakut dan paling ga bisa ditakut-takutin.

Dafa ketawa kecil melihat Achi yang keliatan kesel karena becandannya. Kemudian cowok itu malah naro tasnya di meja dan menarik kursi untuk duduk di dekat Achi.

“Katanya mau pulang. Ga jadi?” tanya Achi.

“Daripada elo sendirian di sini. Mau gue tinggalin?” jawab Dafa.

Achi senyum melihat untuk pertama kalinya Dafa bicara dengan gaya yang berbeda dari biasanya. Kata-katanya keliatan bersahabat.

“Ini apaan?” tanya Dafa sambil melihat kotak berwarna biru yang terletak di meja Achi.

“Itu Bolu Kukus. Kemaren gue nyoba bikin. Ga habis soalnya gue keburu kenyang,” kata Achi sambil ketawa.

Tanpa izin, Dafa langsung membuka kotak bekal itu dan mengambil potongan Bolu Kukus yang masih tersisa dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Enak, Chi.”

Achi langsung ngeliat Dafa dengan ga percaya.

Cowok yang selama ini ga pernah mau beli dagangannya, kali ini memakan Bolu Kukus buatannya dengan lahap.

Achi ga berkedip pas Dafa mengambil sepotong lagi Bolu Kukus buatannya dan memakannya.

“Wah, elo bakat jadi Chef, Chi,” kata Dafa sambil menelan kue yang dikunyahnya.

“Kenapa elo makan Bolu Kukus buatan gue?” tanya Achi.

Dafa langsung kaget dengan pertanyaan Achi. Dafa diem sambil liat mata Achi yang lagi didepannya.

“Memang ga boleh? Kenapa ga bilang kalo ga boleh?”

“Bukan gitu. Bukannya elo sebel sama gue?”

Dafa ketawa lebar, membuat Achi semakin bingung. Achi cuma bisa menunggu cowok itu berhenti ketawa.

“Sebel sama elo? Kenapa juga gue harus sebel sama elo?”

“Buktinya elo ga pernah beli cupcake dagangan gue.”

“Memang kalo gue ga beli, itu artinya gue ga suka sama elo? Kan ga bisa disimpulkan kayak gitu, Chi.”

Achi diam denger ucapan Dafa.

“Gue ga suka cupcake. Gue suka makanan lokal. Walopun yang bikin itu nyokap elo, tetep aja sebenernya itu bukan resep asli kita, kan? Gue suka makanan daerah. Termasuk Bolu Kukus,” tambah Dafa lagi.

Achi langsung diem. Ga disangka kalo Dafa yang katanya pernah tinggal di luar negeri pas masih kecil ini, malah menyukai makanan yang dianggap orang sederhana.

Achi mendadak menemukan sisi lain seorang Dafa yang mungkin aja ga diketahui orang lain.

“Gue pengin bantuin elo dengan ngebeli dagangan elo. Tapi kalo ga gue makan dan gue kasih ke orang lain, itu bakal bikin elo sakit hati, kan?” kata Dafa sambil tersenyum tipis.

“Tapi elo bener-bener ga sebel gue, kan?”

“Aduh, hidup aja udah rumit. Ngapain juga dipersulit dengan sebel orang lain, Chi?”

“Jadi kalo gue ga jual cupcake, kalo gue jual Bolu Kukus ke elo, elo pasti beli?”

“Dengan senang hati,” kata Dafa sambil ketawa.

Lega sudah. Ga ada lagi yang harus dipikirin.

Ga perlu berpikir yang aneh-aneh karena Dafa sama sekali ga sebel sama Achi. Lebih dari itu, mulai besok Achi dapet pelanggan baru yang istimewa. Istimewa karena yang dibelinya bukan cupcake. Tapi Bolu Kukus.

Share Button

Vidette Glasses

a bit of this a bit of that .. HAHAH

More Posts - Website - Twitter - Pinterest - Google Plus



Comments


Leave a Comment