Cerita Pendek: Mencintaimu Sangat Menyakitkan


Share Button

mencintaimu itu menyakitkan

Hari Selasa dan Rabu selalu jadi hari favoritku. Di hari itu, kamu pasti akan masuk ke dalam kelasku untuk memberi pelajaran. Sebelum pelajaranmu dimulai, entah kenapa waktu selalu terasa lama berlalu. Aku memang tidak pernah sabar menunggu jam pelajaranmu datang.

“Sudah sampai dimana materi kita, Rin?” tanyamu padaku.

“Grammar focus, Sir,” jawabku dengan cepat. Ya, demi kamu, aku selalu mempersiapkan diri semalam sebelum pelajaran. Tidak heran, aku selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang kamu ajukan di kelas. Sehingga, aku merasa menjadi murid yang paling spesial. :)

Begitu juga denganmu, setiap topik pembicaraanmu pasti selalu ada namaku yang kamu sebut. Tahukah kamu, hal itu selalu aku bayangkan sebelum tertidur?

Hal aneh ketika kamu tahu semua tentang diriku. Mulai dari peringkatku yang menurun sewaktu semester lalu sampai tentang aku yang belum pernah pacaran. Padahal sewaktu aku duduk di kelas XI, kamu tidak  mengajar di kelasku. Aku mulai menganggap semua sebagai sikap perhatian yang kamu tujukan kepadaku. Sehingga, cinta ini kepada dirimu tumbuh semakin besar.

***

Seperti biasa, setiap penerimaan raport semester selalu diisi oleh lomba pentas seni dari murid-murid di sekolah. Termasuk, penampilan dariku.

“Rin, gimana cerita yang kamu buat? Sudah siapkah untuk ditampilkan,” ujarmu membuyarkan lamunanku.

“Udah, Sir. Ini teksnya udah Rini bawa,” jawabku.

Aku pun naik ke panggung dan membacakan puisi renunganku. Puisiku tentang kamu sambil diiringi alunan music slow, “Kuputuskan berlari, berlari menuju ombak yang membawaku ke kutub Selatan. Di sana aku seperti tidak merasakan hidup, tetapi aku merasakan ketenangan. Dingin yang sedikit demi sedikit menghapuskan ingatanku tentangmu. Sekarang, aku kembali untuk tidak merasakan cinta. Hampa tapi tenang. Ya, tenang seperti yang aku butuhkan.”

Setelah selesai aku membacakan renungan itu, kamu pun berdiri memberikan applause diikuti semua orang. Sekali lagi, juara satu di pentas seni kembali kuperoleh semester ini. Pentas seni pun berlalu, itu artinya besok kami akan memulai libur panjang. Tidak seperti teman-temanku, aku malah membenci libur. Itu berarti hari-hari tanpamu.

***

Sekarang aku pun melewati hari libur yang membosankan, dua minggu yang menyiksa. Sampai tiba-tiba aku memperoleh cerita yang tak pernah terbayangkan tentang kamu. Nurul bilang kamu akan menempuh hidup baru bersama kekasih yang kamu pilih. Aku hancur…

Aku terus mengurung diri di kamar, sama sekali tidak berhubungan dengan siapapun. Bahkan, handphone ku-silent. Aku bahkan tidak menyadari liburan telah berakhir, sehingga tiga hari aku tidak masuk sekolah. Aku pun masuk ke sekolah, tepat di hari Rabu. Hari yang kucoba anggap tidak spesial lagi.

Kamu langsung menghampiriku, ketika masuk ke dalam kelas. Oh Tuhan… kenapa kamu menghampiriku? Mengapa tidak kamu biarkan saja aku untuk menangis? Jangan beri aku harapan lagi!

“Rin, kamu kenapa, kok kamu menagis?” ujarmu. Aku tak mendengarkan apa yang kamu katakan, aku terus menangis. Bahkan, tak sadar ketika kamu dan teman –teman membawaku ke UKS.

Ketika teman-teman kembali ke kelas, tinggal aku dan kamu saja di ruangan itu. Aku ingin memelukmu namun aku tak kuasa, karena aku tahu siapa diriku pada saat itu. Aku mencoba untuk menceritakan semuanya kepadamu.
“Sir, Rini sebenarnya tidak sakit. Tapi, ada masalah yang sebelumnya belum pernah Rini rasakan,” ujarku.

***

Aku menceritakan semuanya kepadamu, bahkan memintamu untuk berjanji tidak akan marah dan membenciku. Hal itu kamu sanggupi. Ketika aku menceritakan perasaanku padamu, kamu malah tertawa, sambil mengelus kepalaku.

“Sir, hargai keberanianmu untuk mengatakan itu semua. Sir, tidak marah karena kita bebas untuk mencintai dan dicintai oleh siapa pun. Tapi, Sir akan meluruskan sedikit kesalah pahaman ini. Saya memberikan perhatian yang lebih terhadapmu karena kamu anak yang berprestasi,” ungkapmu.

Aku tidak tahu hal apa yang baru aku perbuat, tapi aku jadi mengerti tentang semua di balik perhatianmu. Aku pernah membaca sebuah buku tentang kisah cinta seorang murid dengan guru. Tapi, cerita itu sangat berbeda dengan hal yang sedang aku alami pada saat ini.

Jika dia akhirnya bisa mencintai guru itu sebagai seorang kekasih, sekarang aku  justru hanya bisa mencintaimu sebagai seorang murid…

Cerita Pendek oleh: Rini Wulandari

Kirim cerpen karya asli beserta data diri lo ke ouch@mycakrawala.com kalau pengen cerita pendek buatan lo dimuat di sini!

Share Button


Comments


Leave a Comment