Cerita Pendek: Manusia Racun


Share Button

Kemarin, seorang teman memberi posting tentang “Ciri Manusia Racun” yang membuat saya tertegun.

Tanda-tandanya banyak sekali yang persis dengan teman ‘spesial’ di kampus. Bukannya saya sama sekali tidak menyadari dari awal – but this posting is definitely a wake up call.

Dari awal, saya menyangkal keberadaan racun itu. Mungkin, karena saat itu saya sedang sendiri dan perlu teman. Mungkin, karena obrolan kitanyambung. Mungkin, karena penampilannya yang seperti kucing kecil abu-abu yang tercebur comberan – rapuh, tapi nekat dan galak. Mungkin, karena ia memang spesial.

It all began on Facebook.

cerita pendek manusia racun

Kami satu jurusan dan (sama-sama) bergabung di group Facebook jurusan – dengan harapan mendapat jatah teman lebih awal. Punya teman bergantung selama MOS nanti. Paling tidak, teman nebeng untuk acara buka puasa tanggal 3.

Saya tidak tahu rupanya. Profile picture Facebooknya adalah tokoh Parampaadengan senyum terlalu lebar.

 

Sepertinya, ia sudah tahu rupa saya – lewat foto. Yang jelas, friend request datang dari dia. Entah karena ia begitu semangat menambah pertemanan sehingga melayangkan friend request ke semua anggota group. Entah karena ia melayangkan friend request secara acak – dan kebetulan, saya kebagian. Entah karena (mungkin) ia menganggap (foto) saya menarik.

Confirm friend request

 

Ada inbox baru.

“Maba?”

Sender: tokoh Parampaa bersenyum lebar

Saya membalas dengan wajar (“Iyaa”) – dengan sedikit tambahan embel-embel basa-basi (“Salam kenal :D”)

Inbox-inbox saling berbalas. Inbox biasa. Obrolan ringan, pertanyaan mencoba ramah campur ingin tahu dengan sedikit basa-basi. Masih dengan misi mendapat ‘teman bergantung nanti’. Inbox tanpa rasa. Kadang, dalam 1 hari hanya 1 inbox.

Tapi, inbox datang rutin. Setiap hari. Dengan paragraf yang semakin panjang dan jumlah yang bertambah.

Lalu, ia mendapat nomor handphone saya (sepertinya dari database angkatan, but I don’t know exactly, either). Dengan sigap, percakapan pindah kehandphone. Ya, kami bercakap-cakap setiap hari.

“Besok, tugas mos apa aja?”

“Bikin milis, bikin nametag, ini, itu, blablabla”

“Nanti, ikut kumpul angkatan”?

“Lo ikut nggak? Gue ikut kalo lo ikut”

“Okay, kita ketemu di sana. Bawa motor nggak? Ikut dong…”

” Yuk”

Untuk pertama kalinya, ia menjemput saya.

Rasa pertama kali dibonceng anak kucing?

1. Tubuhnya tipis sekali, rapuh. Dapat terbunuh dengan mudah. Sasaran empuk penjahat.

2. Bajunya terlalu wangi. Aroma Rapika.

3. Rasanya seperti dibonceng anak SMP.

“Lagi di mana?”

“Lagi jalan-jalan *.*”

“Sendiri?”

Yeah, why?”

“Eeh iya, nggak suka dikelilingi orang banyak kan ya”

“Habis, kalo ajak temen yang nggak terlalu comfortable to be with, malah nggak enak. Kayak ada yang gerecokin. Males basa basi”

“Kalo sama gue, nyaman nggak?”

“Nyaman. Lo kan temen baik gue”

“Wow”

“Lain kali kalo mau jalan, mau ditemenin?”

Why? Bukannya cowok nggak suka lihat-lihat barang ya?”

“Nggak sih. Gue suka lihat lo aja.”

Pipi saya memanas.

As simple as that. Pesan singkat beranjak menjadi janji-janji kecil untuk bertemu. Janji-janji kecil menjadi boncengan-boncengan setelah kuliah usai. Kadang, boncengan langsung ke tempat kos. Kadang, berkeliling-keliling kampus dulu baru ke tempat kos. Dari boncengan, menjadi janji ke perpustakaan. Setelah itu, nonton berdua.

Apakah ini pertemanan biasa? Suka? Sayang?

No idea. I’m just glad to be with him. I just love how we spend time together.

Kenapa? Mungkin, karena kita berdua jahil. Mungkin, karena kita berdua mudah penasaran. Mungkin, karena kita berdua suka membaca buku-buku kontroversial. Mungkin, karena ia trolling. Mungkin, karena ia memang spesial.

 

Mungkin, rasa datang lebih dulu. Setelah itu, baru kita mencari-cari alasan untuk rasa itu.

Sepenting itukah sebuah alasan? Mungkin ya. Mungkin tidak. Mungkin keduanya.

Yang saya tahu, rasa itu ada.

Hubungan semakin instens. Hingga pada suatu sore setelah menonton pertandingan antar jurusan, saya diminta untuk jadi pacarnya.

Saya tidak suka hubungan berstatus. Status hanya akan menekan. Membuat yang spontan menjadi kewajiban. Tanpa status, kita bebas. Kasih sayang mengalir dengan jujur dan sendirinya. Tidak ada tuntutan karena kita saling mengikat jiwa. Bukankah ikatan jiwa jauh lebih dalam daripada status?

Status adalah nama. Tapi, ikatan adalah rasa.

Sayang, dia lebih memuja status. Pemuja nama dan hubungan fisik.

Katanya, itu namanya menggantung kalau tanpa status. Ia tidak mau. Ia merasa saya tidak ingin terikat karena masih mencari yang lain. Yang lebih baik.

Saya sangat mengerti alasannya. Tanpa status, rasanya kurang memiliki. Tidak diakui. Tidak terikat. Bisa melepaskan diri dengan entengnya.

Tapi, saya pun sangat mengerti alasan saya. Tanpa status, kita akan lebih berusaha untuk tetap saling memiliki. Saling mengakui walau tanpa pengakuan orang. Saling mengikat. Sulit melepaskan diri karena terikat kuat.

Racun yang saya sangkal, semakin tampak. Setiap hari, ada saja yang ia melakukan untuk memacu keributan – mulai dari perdebatan hubungan tanpa status ini, hingga karena gurauan saya yang (ternyata) tidak dia suka. Ada saja uring-uringannya.

Don’t get me wrong. It’s not like I avoid arguments – it’s a way of communicating.

Yang saya tidak suka adalah, caranya. Caranya yang mau menang sendiri. Caranya yang kasar dan terburu-buru ingin berstatus. WTF man? Seriously.

 

(Saya jadi ragu, apa sih yang sebenarnya ia cari? Apa ia betul ingin bersama saya, atau hanya menginginkan pacar? – berhubung cukup banyak manusia sekarang yang takut dengan status jomblo – apa salahnya kalau belum punya pacar? Memangnya, pacar sumber kebahagiaan? Apakah harus berpacar dulu supaya bahagia? Lantas, bagaimana bisa membahagiakan pacar jika untuk kebahagiaan sendiri saja, harus mengemis-ngemis?)

Sudah marah-marah, tidak mau kompromi pula. Solusi saya ditolak mentah-mentah, tanpa memberi solusi pengganti. Lalu, ia mengeluh stres gara-gara saya. (Ia saja stres, apalagi saya yang rutin kena marah dirinya?)

Tapi, bukan itu racun utamanya. Yang utama adalah; kemampuannya untuk membuat saya merasa bersalah. Membuat saya pontang-panting berusaha untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan dia? Cuma marah. Menempatkan diri sebagai korban dan sukses membuat saya kasihan (tapi semakin sayang…).

Setelah 3 bulan penuh keributan, kita genjatan senjata. Tidak ada komunikasi. Tidak juga putus hubungan. Sepertinya, ia ingin balik menggantung saya.

I admit, strategi – or whatever he’s trying to pull off – works. Saya ketar-ketir mencari keberadaannya, walaupun pesan saja tidak pernah dibalas lagi. Bodohnya saya.

(Dalam hal ini, perlakuan dia tidak fair. Walaupun saya menggantung dia, pesannya selalu saya balas. Saya tidak mengabaikan. Mulai dari obrolan sehari-hari hingga marah yang tidak selesai-selesai, selalu saya tanggapi. Sedangkan dia? Nothing. Not one reply).

 

Akibat saya yang entah terlalu bodoh, terlalu sulit melepaskan atau terlalu sayang, saya baru sadar 4 bulan kemudian bahwa

 

“Hey, this will never work out, you know? He doesn’t even care. So stop being pathetic. Get over him. He’s not even worth it,”

And here comes… The moment of sadness *sighs*

Alright, we had so many bad times.

But, if I could rewind all those good moments, I would.

 

Kembali berboncengan motor ke kampus; ditemani olehnya ke lab untuk mengumpulkan laporan praktikum; chatting hingga saya tertidur (dan kembali melanjutkan obrolan begitu bangun); membelai rambutnya yang ikal halus seperti rambut bayi di balik rak-rak buku; menghirup aroma parfumnya setiap ia datang untuk menjemput saya jam 7 pagi; senyumnya yang canggung dan malu-malu setiap ketahuan sedang sembunyi-sembunyi menatap saya; semuanya.

Tapi, saya harus sayang diri sendiri. Saya tidak mau sedih lagi.

Mungkin, ia adalah lampu dan saya laron yang bertekad untuk terus menempeli lampu – walaupun lampu tidak acuh pada laron.

Lampu itu biasa saja. Tidak terlalu terang, tidak juga indah. Tapi, laron sudah memilih lampu itu. Laron sayang lampu.

Hingga akhirnya, laron sadar lampu yang panas akan terus menyakiti. Laron tidak ingin sakit lagi. Laron tahu, ia harus menjauh dari lampu.

Dan ia melakukannya.

Ditulis oleh: Farah Shabila.

 

Kirim cerpen karya asli beserta data diri lo ke ouch@mycakrawala.com kalau pengen cerita pendek buatan lo dimuat di sini!

Share Button

Comments


Leave a Comment