Cerita Pendek: My Love “Tony”


Share Button

cerita pendek my love

Mempunyai pasangan yang sempurna pasti menjadi idaman semua orang. Aku yakin itu. Hal ini juga berlaku terhadap diriku. Aku sangat ingin memiliki seorang kekasih yang sayang kepada ku dan dapat menerima ku apa adanya. Munafik memang kalau aku mengatakan aku nggak mengharapkan kekasih yang tampan. Aku menginginkan itu juga.

Tak hanya tampan, aku juga menginginkan kekasih yang menyayangi ku. Aku sudah menemukan orangnya. Tetapi, apa daya… Sepertinya cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan. Dia sudah mempunyai dambaan hatinya sendiri. Hancur hatiku berkeping-keping setelah mengetahui itu.

Setiap hari sepulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan dia memetik gitarnya. Setiap petikkannya terdengar begitu indah. Tak pernah ku lewatkan satu hari pun untuk melihat ia memainkan gitarnya. Suaranya yang indah juga membuat hati ku meleleh.

Tak terarsa sudah dua tahun lamanya cinta ku bertepuk sebelah tangan. Aku hanya bisa sampai ke tahap sahabatnya. Sahabat yang setia mendengarkan semua keluh-kesahnya. Sahabat yang siap di mintai bantuan. Sahabat yang selalu memberikan solusi dari semua masalah yang sedang di hadapinya. Aku nggak pernah mengeluh kalau dia ingin curhat dengan ku hingga larut malam. Aku selalu siap kapanpun dia membutuhkan aku.

Satu hari yang nggak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. Hari itu adalah hari senin tanggal 3 Maret 2011. Tepat pada saat aku ulang tahun. Malam harinya dia seperti biasa curhat dengan ku.

Mar, gue suka sama…
Sama siapa, Ton?” tanyaku.

Aku sangat mengharapkan dia mengatakan ia menyukai ku. Karena hari ini adalah hari ulang tahun ku. Kalau dia menyatakan perasaannya hari ini, berarti ini adalah kado terindah yang pernah aku terima selama hidupku.

Sama Karina.

Duar !!! Sama sekali bukan namaku yang di sebut oleh Tony. Hancur sudah harapan ku untuk mendapatkan kado terindah. Hati ku hancur berkeping-keping. Ingin sekali rasanya menutup telepon itu sekarang dan menangis sekencang-kencangnya. Tapi, aku nggak mungkin melakukan itu. Ia akan curiga. Aku nggak bisa berbicara apa-apa. Aku hanya diam. Diam seribu bahasa.

Mar, kok lo diem sih?? Kenapa? Ada yang salah sama Karina?
Oh.. Nggak kok, Ton.. Nggak ada yang salah sama dia.
Menurut lo Karina kayak apa sih anaknya?
Gue juga nggak tau, Ton.” jawabku sedikit ketus.

Lo marah yah, Mar?
Nggak kok. Ngapain marah?
Oh. Mar, gue bisa minta tolong nggak?
Minta tolong apa?

Cariin info tentang Karina dong. Lo satu kelas sama dia kan? Dia kira-kira udah punya gebetan belom yah?
Sorry, Ton. Gue nggak bisa.
Kenapa?” tanya Tony heran.

Aku nggak heran lagi kenapa Tony heran aku menolak membantunya. Karena, biasanya aku selalu siap untuk membantunya. Aku nggak pernah nggak mau membantunya. Sesulit apa pun akan ku bantu Tony. Aku segera mencari alasan yang paling masuk akal.

Sorry banget ya, Ton. Bukannya gue nggak mau bantu lo. Cuma gue nggak bisa bantu lo. Gue bakal repot banget akhir-akhir ini karena lomba bulan depan.
Oke. Gue ngerti kok. Maybe gue emang harus nyari tahu sendiri.

Sudah dua bulan lamanya aku dan Tony menjadi sedikit jauh. Karena sudah selama itu juga Tony jadian dengan Karina. Ketika aku mengetahui Tony jadian dengan Karina, hati ku hancur. Aku merasa nggak ada yang harus aku lakukan di dunia ini. Semuanya sudah hilang. Hancur berantakan. Selama seminggu aku mogok makan.

Aku nggak mau ngomong dengan siapa pun. Selama seminggu pula aku nggak mau ngomong dengan Tony. Aku marah dengan dia. Tapi, setelah aku pikir-pikir, sebenarnya Tony nggak salah. Akulah yang telah membuat sebuah kesalahan yang besar. Harusnya dari awal aku memberitahu Tony tentang perasaan ku ini.

Seharusnya aku tidak perlu takut dengan apapun juga yang akan terjadi. Seharusnya aku berani. Aku nggak boleh jadi pengecut. Tapi, sekarang semua telah terlambat. Nasi sudah jadi bubur. Aku nggak mungkin berkata dengan sejujurnya dengan Tony sekarang. setelah dia jadian dengan Karina. Aku nggak tahu harus cerita dengan siapa. Aku bingung. Ternyata cinta telah membutakan aku. Karena cinta, aku melupakan untuk bergaul dengan teman-teman ku.

Tapi, hubungan Tony dan Karina nggak bertahan lama. Hubungan mereka hanya bertahan selama dua bulan. Karina tidak benar-benar mencintai Tony. Karina mencintai James. Yang tak lain dan tak bukan adalah teman baik Tony. Tony kembali kepada ku. Dia memuntahkan semua unek-uneknya kepada ku.

Gue nggak tau harus gimana lagi, Mar. Gue merasa di khianatin sama dia. Kenapa dia kayak gitu sama gue?
Gue juga nggak tahu, Ton. Ton, besok gue harus pergi ke Amerika. Gue dapet beasiswa. Sorry ya, gue udah nggak bisa jadi temen curhat lo lagi. Lo harus bisa nanganin masalah lo sendiri. Nggak mungkin gue selalu ada di saat lo butuh gue.
What? Kok gue nggak tau?
Lo kan selama ini selalu sama Karina. Gue nggak berani deket-deket sama lo.
Ya ampun, Mar. Lo kenapa harus pergi?

Sebelum aku pergi ke airport, aku menyempatkan diri ke rumah Tony untuk memberikan surat. Surat buat Tony. Yang isinya…

 

Dear, Tony…

Ton, thanks ya lo udah mau jadi temen gue. Sorry kalo selama ini gue bohong sama lo. Sebenernya gue sayang sama lo. Gue suka sama lo. Sorry kalo gue selama ini nggak pernah bilang sama lo tentang perasaan ini. Gue tau kalo gue amat sangat bodoh. Gue bodoh. Nggak berani ngungkapin perasaan gue sama lo.

Pada saat lo baca surat ini mungkin gue masih ada di airport. Kalo lo mau dateng, gue tunggu lo. Gue tunggu lo ampe jem setengah dua lewat lima belas. Gue harap lo bisa dateng ke sini. Kalo lo nggak mau dateng juga nggak apa-apa.

Gue merasa udah lega banget setelah gue bilang perasaan yang gue pendam selama satu tahun.

Ton, gue titip si Lala yah. Jaga dia bae-bae. Empat tahun lagi gue balik ke Jakarta. Gue mau pas gue balik, Lala masih tetep sehat. Anggep aja, Lala hadiah kenang-kenangan gue buat lo.

-Mariska-

Ku tunggu Tony. Jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul setengah dua lewat sepuluh. Lima menit lagi. Aku akan menunggu sampai lima menit lagi. Lewat dari lima menit, aku akan masuk ke dalam pesawat. Dua menit lagi. Aku sudah mulai putus asa. Tony nggak mungkin dateng. Benar saja. Sampai jam setengah dua lewat dua puluh menit, Tony nggak dateng. Dengan berat hati aku masuk ke dalam pesawat.

Karena kebodohanku, aku harus rela meninggalkan cinta ku. Cinta pertama ku. Sedih rasanya berpisah darinya selama empat tahun. Tapi, aku nggak bisa melakukan apa pun, aku harus menerima semuanya dengan lapang dada. Semua ini karena kebodohan ku. Ketakutan ku yang tak beralasan kuat.

“Selamat tinggal, Tony. Tunggu gue. Gue sayang sama lo”, kataku dalam hati.

Cerpen oleh: Florencia Halim – Alumni SMAK 2 Penabur Jakarta

 

Kirim cerpen karya asli beserta data diri lo ke ouch@mycakrawala.com kalau pengen cerita pendek buatan lo dimuat di sini!

Share Button


Comments


Leave a Comment