Cerita Pendek: Berteman Harapan


Share Button

Namanya Abel, seperti biasanya anak normal, Abel hidup seperti mereka, Abel tetap bangun dipagi hari, makan disaat lapar dan hidup seakan ga ada beban. Padahal tanpa seorang pun teman yang mengetahui jauh lebih dalam yang ada di kepala Abel, Abel kanker otak stadium 2.

Entah apa yang membuat Abel menyembunyikan semua ini, atau entah karena memang golongan darahnya yang terkesan selalu pintar menyembunyikan apa yang sebenarnya paling natural dari tubuhnya. Iya “O” golongan darah yang selalu disebut juga “Thousand Mask” atau seribu macam topeng yang mampu membalikkan semua yang Abel alami. Jika Abel merasa sedih, maka senyum yang Abel tawarkan, begitu pun sebaliknya, dan mungkin ini salah satu keanehan pada anak-anak yang bergolongan darah “O” dan itu sangat berlaku buat Abel.

Abel anak perempuan dengan postur tubuh yang bisa dibilang proposional, hidung mancung, rambut tergurai, dan mungkin termasuk kategori perempuan menarik, walau terkadang Abel tampak lemah pas kepala ini sedang kambuh dari penyakitnya. Abel mempunyai seorang kakak lelaki dan dua orang tua yang mungkin sebentar lagi akan pisah. Serumit itukah keluarga Abel? Ya, kalian hanya baru tau segelintir dari sepanjang hidup Abel. Tapi hebatnya Abel mampu bertahan dengan seorang sahabat lawan jenisnya, Rei namanya. Dia anak dengan seribu otak, dia mampu memutar dunia Abel dengan keadaanya yang seadanya, dia mampu melewati dunia dengan berteman pada semua orang.

Dan Abel? Abel hanya mampu berteman dan berharap bangkit padanya, Abel cenderung memilih teman, bukan karena dia kaya, atau karena orang tuanya mampu membeli setengah isi bumi. Abel memilih teman hanya karena Abel takut mereka menjauhinya dengan keadaan Abel yang sulit ini.

Lain halnya dengan Rei, dia mungkin tak semenarik cowok pada biasanya, dan tak sekaya anak lainya, tapi kesederhanaanya mampu membuatnya bertahan. Berbeda lagi untuk Abel, Abel termasuk anak yang punya orang tua yang beruntung begitu kata anak-anak lainnya, tapi justru dengan keadaan Abel yang berada ini Abel malah tak mampu bertahan seperti Rei, sungguh Abel ingin hidup seperti Rei !

Tok,.. tok,..

“Aku pengen lihat PR mu dong ?” Rei tersenyum ketika Abel membukakan pintu untuk Rei, dengan pandangan yang sungguh sayup. Maklum Abel baru bangun tidur, mengingat jadwal SMA Abel hari ini terlalu padat.

“ PR ?” Astaga!! Sambil menepuk jidat.

“Kamu lupa ? atau kesibukan tidur ?” dasar Rei, tau saja kesibukkan Abel yang paling enak satu ini.

“Ga disuruh masuk nih aku ?”

“Yaudah masuk aja”

Iya seperti itulah Abel dengan Rei, obrolan yang cenderung ringan dan “sooooo flat”. Tapi itu hanya berlaku jika di sekolah dan membahas masalah sekolah, tapi kalo diluar ? Tak seperti yang diharapkan, Rei jauh lebih dari seorang joker ! Jika joker mampu tertawa di atas penderitaan seseorang, tapi Rei? Dia mengubah penderitaan seseorang menjadi tawa, itulah dia !

Ada sesuatu yang membuat Abel tak bisa melupakan kejadian saat dengan Rei. Saat makan sate dipersimpangan blok dekat rumah Abel.

Malam yang sulit, ayah Abel seorang pengacara, sedangkan ibu seorang dokter spesialis kecantikan yang cenderung pulang malam, mereka pulang tak seperti halnya orang tua yang akur, mereka bertemu malah perang, dan malam itu perang terbesar yang pernah Abel lihat di arena keluarganya. Ditambah lagi kakak Abel yang ternyata seorang pengedar narkoba dikampusnya, dan ayah merasa mukanya tercoreng sebagai seorang pengacara. Sungguh malam itu langit runtuh !

“Sudahlah Bel, mereka hanya butuh waktu yang tepat untuk saling bicara,” selalu itu yang dikeluarkan oleh sesosok anak lelaki yang duduk disamping Abel malam itu.

“Pak, tolong pak !!!” teriak seorang anak perempuan kecil, yang dari tadi mencium aroma di dekat panggangan sate. Seketika itu semua pelanggan sate Madura itu panik melihat anak tersebut bajunya tersambar api, mereka berusaha mencari seember air, tapi untuk embernya saja mereka tidak menemukannya. Sedangkan anak tadi tetap teriak dan meronta-ronta.

“Rei !!, Rei !!” teriak Abel memanggil Rei dengan wajah panik pucat. Dan hebatnya lagi Rei hilang entah kemana. Disaat semua orang pada hebat-hebatnya kepanikan dia menghilang. Namun selang berapa menit, aku melihat Rei berlari membawa ember yang berasap-asap. Bukanya Abel merasa lega, tapi Abel tambah panik, bagaimana tidak, Rei ingin menyiram anak tadi dengan seember air yang baru dimasak yang diambil dari pedagang bandrek yang tak jauh dari lokasiku.

“Awaaaaasssss…” teriak Rei seolah pahlawan kemalaman

“Jangaaaaaann kaaaaaaak…” teriak anak tadi yang mungkin menyadari kalo Rei mau menyiramnya dengan air masak untuk bandrek.

Seketika itu pun Rei sadar, berhenti mendadak, lalu secercah air tumpah ke jalanan dan mengeluarkan uap tanda air mendidih. Dan ini saat-saat yang paling Abel tak lupakan dari Rei, tanpa pikir panjang dan memang seperti pahlawan yang keluarnya malam hari, Rei melepaskan bajunya, kemudian berlari mendekati anak tadi dan memeluknya menggunakan bajunya.

Entah apa yang membuat teman Abel itu berpikir gila seperti itu, tapi tindakan Rei tadi membuat semua pelanggan laki-laki yang tua maupun muda ikut memeluk anak kecil tadi. Perlahan api yang menyambar baju anak tadi padam, dan untung saja hanya luka bakar ringan di badannya. Tapi ternyata tak berbeda jauh dengan Rei, dia pun terkena luka bakar ringan.

Abel menangis sejadinya malam itu, bukan karena Rei sebodoh itu, tapi Abel terharu, bagaimana bisa dia mengorbankan sejauh itu untuk anak yang jelas-jelas tak pernah menolongya sebelumnya. Tapi Abel tak sempat bertanya akan hal itu padanya sampai saat ini.

Sampai saat Abel terbaring menikmati sakitnya ini, Abel belum melihatnya datang menemuinya yang mungkin akan mati sebentar lagi. Abel hanya melihat kakaknya menggunakan baju tahanan, ayah dan ibunya yang terlihat diam satu sama lain. Abel bertanya dalam hati, “sampai kapan kalian akan berperang seperti ini, bahkan saat anakmu ini akan mati kalian masih memasang wajah saling membenci.”

Abel berharap kalian akan tahan bersama setelah Abel mati nanti, dan Abel berharap akan bertemu Rei sebelum Abel mati nanti. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Abel dipindahkan ke Singapore untuk operasi khusus, dan itu tandanya Abel ga akan menemukan rei lagi. Apa mungkin Rei tau kalau Abel hampir tak bisa berdiri ini.

2 bulan kepulangan Abel ke Indonesia, …

Abel berjalan seolah karena memang Abel berhasil sembuh dari penyakitnya ini, tapi setelah kurang lebih dari 3 bulan ini Abel tak melihat Rei. Abel tetap berjalan menikmati udara Indonesia ini, Abel berjalan di alun-alun komplek dan duduk dimana Abel melihat rei pernah menjadi pahlawan malam sekitar setahun lalu, sungguh malam yang sulit, tapi Abel datang kali ini dengan keadaan yang sangat bahagia, entah dari mana Tuhan memperbaiki keadaan keluarganya.

Abel sungguh bersyukur dan menunggu Rei di sini untuk menceritakan semuanya. Tapi yang datang kali ini bukan Rei, Abel melihat sesosok anak kecil datang menghampirinya, Abel kenal dia, Abel kenal luka itu.

Ternyata Rei telah mendahuluiku, Abel memeluk erat anak perempuan kecil ini. Ternyata Rei menjenguk Abel, tapi dengan luka bakar ringan ditubuhnya yang dulu, menjadi kumat saat ditengah jalan hendak menjenguk Abel, dia ditabrak di persimpangan blok ini, dan anak perempuan ini yang dulu pernah ditolong Rei, menariknya ke puskesmas yang tak jauh dari komplek perumahannya. Memang jika siang sekitar sini sepi, maklum ini perumahan pengacara.

Tanpa sadar ini menjawab pertanyaan Abel, kenapa Rei rela menolong anak kecil yang ga dia kenal? Rei menolong karena iklas, bukan karena dia mengharapkan nanti ada yang datang memberitahu kejadian ini ataupun menolongnya ketika dia akan setangah mati. Coba saja jika saat itu anak perempuan ini sudah tak ditolong, mungkin jasat Rei akan membusuk dijalanan. Abel memeluk anak perempuan itu seerat-eratnya, Abel berpikir jika dengan Rei dulu Abel berteman dan menjadi harapannya untuk bangkit, tapi kini Rei pergi jauh, dan Abel? Abel hanya berteman harapan.

 

Nama : Muhammad Rizki

Kelas : XII SMA kelulusan baru tgl 24 mei

Twitter : @MRizkiiy

Alamat : komp. Pepabri blok D9 No.2 Lingkar Barat Kota Bengkulu

Share Button

Miss September

Passion and Dreams Staying Alive

More Posts - Twitter - Pinterest - Google Plus



Comments


Leave a Comment