Cerita Pendek: Aku dan Papa


Share Button

cerpen aku dan papa

Hidupku berubah setelah kedatangan orang itu ke tengah-tengah keluarga ku. Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, aku sudah tahu orang seperti apa dia. Kenapa dia harus datang tepat setelah mama pergi? Kenapa papa tergoda dengan dia? Apa sebenarnya kelebihan dia sampai-sampai setiap hari aku harus adu “bacot” sama papa. Aku memang berbeda dengan kakak ku, Kak Stefan. Mungkin karena aku perempuan dan dia laki-laki dan mungkin juga karena aku lima tahun lebih kecil dari dia.

Tapi, aku yakin dengan pandangan ku kali ini. Wanita itu, tante Sisi, bukanlah wanita yang cocok untuk papa apalagi untuk menggantikan posisi mama. Dia tidak akan pernah bisa menjadi seperti mama. Sudah berkali-kali aku mengingatkan papa untuk meninggalkan tante Sisi yang sok kegatelan megejar papa terus. Tidak hanya itu, dia juga mencoba untuk mendekati ku. Tapi, aku adalah orang yang keras, sama seperti mama. Sekali aku bilang tidak, ya tidak. Sampai kapanpun.

Beberapa bulan kemudian setelah pertengkaran kecil selalu terjadi diantara aku dan papa, akhirnya, hari yang aku takuti benar-benar terjadi. Aku bertengkar hebat dengan papa.

“Aku kan udah kasih tau papa kalo sampe kapanpun, wanita gatel itu nggak akan pernah aku terima sebagai mama aku,” kataku sambil menahan tangis.

“Kamu kenapa sih, Re? Papa kan juga butuh pendamping. Mama mu udah lima tahun ninggalin kita. Apa papa nggak akan pernah boleh buat dapetin pendamping baru?”

“Papa boleh dengan yang lain. Tapi nggak dengan wanita itu. Dia wanita yang nggak bener, pa. Dia itu wanita jalang.”

Plak!

Tangan papa mendarat dengan sangat keras di pipi kanan ku. Pipi kanan ku otomatis langsung merah dan tangis ku pecah. Aku tidak pernah menyangka kalau papa akan menampar ku. Semasa mama masih ada di dunia ini, papa tidak pernah memarahi ku. Papa juga tidak pernah memukul ku.

Tapi sekarang… Karena wanita itu, papa menampar ku untuk yang pertama kalinya. Tanpa banyak bicara, aku langsung lari ke kamar ku. Di dalam kamar, aku memasukkan barang-barang ku ke dalam koper. Masih dengan air mata yang membasahi pipi ku, aku terus memasukkan semua barang yang aku lihat ke dalam koper sampai koper ku benar-benar terisi penuh. Aku tidak tahu apa yang aku masukkan. Setelah selesai, aku keluar dari kamar dan jalan melewati papa yang masih berdiri mematung di ruang keluarga.

 

“Kamu mau kemana, Re?” tanya papa dengan nada yang lemah.

“Kemana pun aku pergi, papa nggak perlu tahu. Papa urus aja wanita itu. Aku benci sama papa,” ucapku tanpa membalikkan badan.

Aku memutuskan untuk pergi ke apartemen Kak Stefan. Ya, kakak ku memang tinggal sendiri sejak bisnis restaurant-nya berkembang pesat. Aku dan Kak Stefan sangat dekat. Pada saat dia pindah ke apartemennya, dia mengajak ku untuk ikut dengannya. Tapi, aku berpikir, jika aku tinggal bersamanya, papa dan mama akan kesepian di rumah besar itu. Jadi, aku putuskan untuk tinggal bersama kedua orang tua ku. Namun, kejadian pagi hari ini membuat ku berubah pikiran. Lebih baik aku tinggal dengan kakak ku.

***

Satu tahun sudah aku tinggal dengan kakak ku dan berarti sudah satu tahun juga aku tidak berbicara dengan papa. Aku tidak mau tahu apapun tentang papa. Aku masih sakit hati dengan kejadian waktu itu. Walaupun Kak Stefan mengetahui aku udah nggak mau tahu apapun tentang papa, dia selalu memberitahukan ku kabar terbaru tentang papa. Papa dan wanita itu sudah menikah enam bulan yang lalu. Wanita itu sekarang sudah mempunyai saham di kantor papa. Namun, beberapa bulan belakangan ini, hubungan mereka agak renggang. Papa menangkap basah istri barunya mempunyai hubungan dengan laki-laki lain. Sejak saat itu, papa menjadi mulai tidak percaya dengan wanita gatel itu.

Setiap hari papa selalu menelepon ku. Tapi, aku nggak pernah mau menerima telepon darinya. Sampai satu hari Kak Stefan memberitahukan ku kalau papa harus diterbangkan ke Singapore karena papa tiba-tiba saja pingsan di kantornya. Malam itu, papa menelepon ku. Mendengar papa masuk rumah sakit, mau tidak mau, aku mengangkat teleponya. Jujur, aku sangat khawatir dengan kondisi papa. Aku mau tahu bagaimana papa sekarang. Kenapa dia sampai harus ke Singapore?

 

“Hallo, Re. Ini papa,” ucap papa dengan suara yang hampir tidak bisa aku dengar.

“Pa, papa kenapa? Kenapa suara papa kecil banget? Papa bisa denger suara Rere kan? Sekarang papa gimana?” tanya ku dengan panik.

“Maafin papa, Re. Re, papa ada titip surat sama Stefan buat kamu. Papa mau istirahat dulu ya, Re. Kamu baik-baik di sana. Kamu belajar yang rajin ya, Re. Papa sayang sama kamu.”

“Pa, Rere ke sana ya besok? Rere juga sayang sama papa. Maafin Rere juga, pa. Rere udah diemin papa selama satu tahun. Pa, papa cepet sembuh ya. Aku besok ke sana sama Kak Stefan. Papa sekarang istirahat aja ya.”

***

To : Rere, anak papa yang paling cantik

Re, maafin papa ya. Ternyata apa yang kamu bilang semuanya benar. Sisi bukanlah wanita yang baik untuk papa. Re, papa dan Sisi sudah bercerai dua bulan yang lalu. Papa selalu ingin memberitahukan kamu. Tapi, kamu tidak pernah menjawab telepon papa. Papa tahu kamu marah sama papa. Tapi, sekarang papa sudah sadar, sayang. Papa tahu buat kamu tidak akan pernah ada yang bisa gantiin mama. Papa juga sadar ternyata wanita paling baik untuk papa adalah mama mu. Papa sayang sama kamu dan Stefan. Sekali lagi, maafin papa ya, Re.

With Love,

Papa

 

***

 

“Maafin Rere juga, pa. Rere nggak pernah mau angkat telepon papa. Rere nggak mau nemenin papa dan Rere juga nggak ada di samping papa pada saat papa butuh Rere. Maafin Rere, pa. Mulai hari ini, Rere janji akan selalu ada di samping papa. Pa, papa cepet sembuh ya. Rere kangen sama papa. Rere sayang sama papa,” ucap ku dalam hati sambil meneteskan air mata.

Cerpen oleh: Florencia Halim – Alumni SMAK 2 Penabur Jakarta

 

Kirim cerpen karya asli beserta data diri lo ke ouch@mycakrawala.com kalau pengen cerita pendek buatan lo dimuat di sini!

Share Button


Comments


Leave a Comment